Bab 39
Hoa Lie merasa sangat lega setelah menghenyakkan pantatnya di jok pesawat berbadan lebar Airbus A330 yang akan mengantarnya menuju Hongkong. Tidak ada aral melintang sama sekali. Dia tadinya mengkhawatirkan orang-orang dari Trah Pakuan akan mencegahnya di Bandara Juanda, tapi ternyata tidak.
Hoa Lie juga sudah memesan penerbangan lanjutan ke Beijing dan Chongqing. Direktur Wang Mo sudah dihubungi dan dilapori mengenai rencananya. Direktur menyetujui semua tindakan Hoa Lie. Bahkan mengirimkan pengawalan khusus ke Hongkong agar menemani perjalanan Hoa Lie hingga tiba di Chongqing.
Perasaan lega Hoa Lie makin membesar saat pesawat besar itu menderum dan take off meninggalkan Surabaya. Wanita ini yakin begitu sudah menjejakkan kaki di Hongkong, dia akan aman sepenuhnya. 10 jam lagi. Hoa Lie mencoba tidur sambil mendekap erat tasnya.
-----
Di Bandung, Babah Liong memelototi titik biru kehijauan yang bergerak secara teratur meninggalkan bumi Indonesia. Orang tua ini melambai ke Sin Liong dan Raja.
“Dia terbang. Aku coba cek melalui aplikasi radar pada koordinat ini. Itu pesawat MH 870 rute Surabaya-Hongkong dan transit di Kuala Lumpur. Apa rencanamu Raja?”
Raja berpikir sejenak. Kemudian berkata kepada Sin Liong.
“Berapa lama kita bisa urus administrasi termasuk visa masuk Hongkong?”
Sin Liong mengangkat mukanya.
”Setidaknya kita perlu 2 hari. Aku sudah serahkan paspor kita ke kenalan Babah di Jakarta. Dia yang akan urus semuanya. Kita hanya perlu memastikan titik biru itu kemana. Apakah cuma sampai Hongkong atau masuk lebih jauh lagi ke wilayah China.”
“Begini saja Babah. 9 jam lagi pesawat itu mendarat di Hongkong. Kita lihat kemana titik itu pergi. Setelah titik biru dan hijau itu sudah tidak menjadi satu lagi, artinya dia meninggalkan bagian manuskrip di suatu tempat. Saat itulah kami berdua akan pergi ke sana.”
Babah Liong mengangguk setuju. Rencana yang bagus! Sin Liong juga mengiyakan.
Citra memandangi muka Raja yang terlihat begitu bersemangat. Pemuda itu sangat serius untuk membantunya. Dia sangat yakin akan hal itu. Tapi bagaimana dengan semua resikonya? Raja adalah seorang reinkarnasi. Jadi sesungguhnya dia adalah manusia masa kini. Jika ada apa-apa, terluka atau tewas, maka harus menunggu sekian lama lagi untuk reinkarnasi berikutnya. Citra tidak mempemasalahkan tata waktu itu. Dia hanya sangat mencemaskan keselamatan Raja. Jelas sekali bahwa dia jatuh cinta kepada pemuda itu. Dia tidak ingin kehilangan dirinya.
Citra menyeret Raja keluar ruangan. Dia mengajak Raja duduk di taman yang dulu pernah membuat Raja terheran-heran.
“Raja, kau tahu ini akan sangat berbahaya. Perburuan yang akan kau lakukan bersama Sin Liong pertaruhannya adalah nyawa. Apalagi ini di negeri jauh dari tempat kita. Apakah tidak sebaiknya kita tunda saja rencana berburu ke China dan kita dahulukan saja yang di Bubat sampai kau mencapai puncak Reinkarnasimu?”
Raja memandang tak mengerti. Puncak Reinkarnasi?
“Kau memang tidak paham Raja. Kau sesungguhnya adalah manusia reinkarnasi. Manusia masa kini yang disusupi ruh dan keinginan seseorang di masa lalu. Tubuh dan jiwamu saat ini dimiliki bersama antara dirimu dan Rajasanagara. Kau masih berada di tengah tahapan reinkarnasi. Oleh sebab itulah semua kemampuan yang kau miliki belum kau sadari sepenuhnya. Kau masih belum mencapai puncak reinkarnasi. Pada saat itu terlampaui, kau akan bisa mengendalikan sepenuhnya kemampuan yang dulu dimiliki oleh Rajasanagara.”
Raja semakin bengong. Mulutnya menganga lebar. Rajasanagara berbagi tubuh dengannya? Raja besar Majapahit itu? Astagaa!
Citra tersenyum. Tangannya memegang pipi Raja yang sedikit mendingin.
“Tapi ada 1 hal yang tidak bisa kukendalikan. Aku jatuh cinta kepadamu sebagai Raja dan bukan Rajasanagara. Karena itulah aku lebih takut kehilanganmu dibanding jika Rajasanagara pergi dari tubuhmu.”
Raja sudah nyaris kehilangan akal sehat sepenuhnya. Ini makin gila saja! Gadis dari masa lalu ini mengaku jatuh cinta kepadanya. Raja seharusnya senang bukan main karena diapun sudah lama merasakan rasa yang sama. Tapi bagaimana menjalani kehidupan bersama nanti ya? Raja menyusut sedikit peluh yang mengalir dari dahinya. Hah, kenapa dia harus memusingkan segala macam keanehan? Toh dia sendiri yang akan menjalani. Raja sudah sampai pada keputusannya. Diraihnya Citra dalam pelukan hangat.
“Aku juga mencintaimu. Aku akan membuktikannya dengan memenuhi keinginanmu memasuki Gerbang Waktu. Jangankan hanya pergi ke negeri China, ke masa lalupun aku akan melakukannya demi kamu.”
Citra menyandarkan kepalanya ke bahu pemuda itu. Merasa tenang dan yakin bahwa dia akan bisa melalui semuanya dengan pemuda reinkarnasi ini.
“Tapi ngomong-ngomong, apa tanda bahwa aku sudah mencapai puncak reinkarnasi? Apakah aku akan berubah wujud atau apa? Jangan-jangan pada saat sudah di puncak reinkarnasi, aku justru berubah menjadi tolol dan tidak ganteng lagi.” Raja bertanya sambil menjulurkan lidahnya.
Citra tersenyum geli mendengar pertanyaan konyol Raja.
“Tidak ada sedikitpun perubahan fisik Raja. Hanya akan ada satu tanda saja. Cincin Maung yang ada di jari manismu akan kembali mewujud dan lepas dari tubuhmu. Jadi pada saat tiba-tiba cincin itu kembali berada di jarimu, segera lepaskan dan simpan. Cincin itu akan menolak dirimu pada saat kau sudah mencapai puncak reinkarnasi.”
Raja manggut-manggut. Agak menyesalkan juga jika sampai cincin itu tidak ada lagi pada dirinya. Cincin itu membuatnya hebat! Citra lagi-lagi tersenyum geli. Tahu apa yang dipikirkan Raja.
“Kamu tidak usah khawatir Raja. Meskipun Cincin Maung itu tidak lagi ada dalam dirimu tapi kemampuanmu tidak akan berkurang. Bahkan akan jauh lebih hebat! Semua kemampuan dan kewaskitaan Rajasanagara dahulu akan otomatis mengalir dalam darah dan denyut nadimu begitu kau mencapai puncak reinkarnasi.”
Raja nyengir. Wah, ini semua mengingatkan dia pada buku-buku silat yang sering dibacanya saat kecil dan remaja. Raja menggandeng lengan Citra masuk kembali ke ruangan kontrol. Kedasih sedang asik memperhatikan penjelasan lengkap Babah Liong tentang semua fungsi ruangan dan peralatannya. Kecuali tentu saja bagian sudut ruangan yang penuh dengan hio, dupa dan bunga-bunga. Bagian yang justru sebetulnya membuat Kedasih sangat bersemangat. Entah mengapa, tapi dia merasa itu tidak berbeda jauh dengan yang dilihatnya sehari-hari di keraton saat dulu dirinya masih kecil.
Raja, Citra, dan Sin Liong memutuskan untuk beristirahat di ruangan belakang yang melewati taman kecil. Ruangan belakang yang sangat luas dan memiliki kamar-kamar besar. Kedasih tidak mau ikut beristirahat. Wanita itu sangat antusias mendengarkan tutorial Babah Liong. Apalagi kalimat Babah Liong tadi selalu terngiang-ngiang di telinganya.
“Kau punya bakat luar biasa untuk menguasai ruang Meta-Science ini Kedasih. Bahkan sudut ruangan yang penuh hio dan dupa itupun bisa kau pelajari semuanya jika kamu mau.”
Kedasih tidak bisa bicara banyak saking gembiranya. Dia adalah ahli sejarah yang selama ini berpegang pada bukti otentik dan ilmiah. Jika sampai dia bisa melengkapi pengetahuannya ke hal-hal metafisis, dia tidak keberatan sama sekali.
“Aku mau Babah! Aku mau sepintar Babah!”
Babah Liong mengangguk mengiyakan. Dia sudah sangat tua. Sudah saatnya mempunyai pengganti yang bisa menguasai ruang Meta-Science ini untuk mensupport Citra dan Raja. Dan dia sudah menemukan pengganti yang sepadan di hadapannya.
* * * *********